Rabu, 04 Januari 2012

Keesokan pagi nya Dea baru dikasih tau yang namanya Zia sama adiknya Irul saat di sekolah. Dan anda tau pemirsa? Betapa senang nya Dea ketika tau bahwa orang yang selama ini dia cari tau ternyata dia lah Irul, hohohohoho, :)
Semakin hari Dea semakin suka sama Irul. Tapi sayang, saat pertengahan kelas 1, Irul pacaran sama teman kelasnya Dea. Patah hati lah Dea, :(
Waktu semakin cepat berlalu, sekarang Dea sudah kelas 3 MTs. Dan perasaan Dea terhadap Irul masih sama, dari kelas 1 dia memendam sendiri perasaannya terhadap Irul, hingga akhirnya saat kelas 3 MTs, dia memberanikan bilang tentang perasaannya selama 3 tahun, tapi bukan ke Irul nya, melainkan ke salah satu sahabatnya Gita. Mereka saling cerita tentang perasaan mereka masing-masing, dan saat itu Dea tau kalau Gita ternyata juga suka dengan temannya Irul, hahahaahahaha. Mereka berjanji ngga akan cerita ke siapapun, termaasuk ke4 sahabatnya yang lain. Singkat Cerita, akhirnya mereka tiba lah di penghujung kelas 3 MTs. Mereka melaksanakan Ujian Negara hingga akhirnya mereka di nyatakan LULUS. Sebagian dari teman-teman Dea ada yang melanjutkan sekolah di sekolah lain, tetapi ada juga yang melanjutkan di sekolah yang sama (sekolah Dea ada jenjang MTs dan MA nya, bahkan sampai kuliah), salah satu nya Dea, Zhie, Gita, Dawi, dan Dian, sedangkan Thia dia memilih melanjutkannya di sekolah lain.
Tahun ajaran baru pun tiba, akhirnya mereka kembali lagi ke sekolah, namun kali ini status mereka berbeda, status mereka meningkat, sekarang mereka sudah duduk di tingkat MA (sederajat sama SMA), seragam mereka pun sekarang bukan lagi putih-biru, melainkan putih-abu2 yang kata orang-orang adalah masa-masa paling indah (hahaha, tapi emang bener sih). Mereka ber4 tidak lagi satu kelas, Dea, Zhie, Gita dan Dian satu kelas, hanya Dawi yang beda kelas. Semakin hari mereka ber4 (tanpa Dawi) semakin dekat. Tapi Dian dan Zhie masih belum mengetahui perasaan Dea yang sebenarnya. Hingga akhirnya tiba di suatu keadaan yang membuat Dea sakit. Ternyata Irul mempunyai perasaan sama sahabat Dea sendiri, iya Dian lah orangnya. Mengetahui hal itu, Dea hanya bisa menangis, hanya Gita yang bisa menenangkan Dea saat itu (secara hanya Gita yang tau tentang perasaan itu). Dea sedih dan sakit hati, tapi Dea ngga mau perasaannya menjadi penghalang kebahagiaan Dian yang juga ternyata punya perasaan yang sama ke Irul. Akhirnya mereka jadian, tambah remuklah hati nya Dea. Hingga akhirnya Zhie mengetahui perasaan Dea terhadap Irul. Hubungan Dian dan Irul ngga bertahan lama, saat mengetahui kabar itu ngga tau Dea harus senang ataukah sedih. Di satu sisi dia senang karena akhirnya hubungan itu berakhir, tapi di satu sisi lagi Dian itu sahabatnya. Saat itu pula ada hal yang paling menyenangkan buat Dea, Irul sms Dea, huhuhu serasa terbang si Dea. Memang sih itu berawal dari Zhie yang sms Irul pake nomor nya Dea, tapi ngga apa-apa lah, hehehehehe. Ya walaupun sms nya ngga terlalu sering, jarang banget malah. Perasaan itu semakin lama semakin kuat, sekarang mereka sudah duduk di kelas 3 MA, tapi perasaan Dea tetap hanya CINTA DALAM HATI. Saat itu, Dea sempat menjalin hubungan dengan teman kelas nya Irul, namun hubungan itu pun ngga bertahan lama. Perasaab Dea ke Irul terlalu kuat, dia memutuskan hubungan itu karena Dea ngga mau terlalu jauh menyakiti perasaan orang lain. Memang pada saat itu Dea punya hubungan dengan orang itu, tapi hati Dea tetap ke Irul, entah kenapa, Dea pun ngga tau alasannya (bahkan sampai sekarang). Hingga akhirnya kejadian yang membuatnya benar-benar jatuh. Kejadian tahun lalu yang membuatnya benar-benar terpuruk.
Mantan Dea mengungkapkan satu pernyataan ke Irul tentang perasaan Dea ke Irul. Dan akhirnya Dea pun mengakui hal itu, mengakui perasaannya yang selama ini dia rasakan sendiri. Tanpa disadari nya air mata Dea keluar membasahi pipinya. Semua rasa jadi satu, sedih, marah, malu, takut, bahagia jadi satu. Ngga tau apa yang harus dia lakukan saat itu, hanya menangislah yang bisa dilakukannya malam itu. Dea terdiam dalam pelukan sepupunya malam itu. Yang paling Dea rasakan adalah MALU. Semenjak saat itu mereka sering memberi kabar, tapi keadaan itu ngga bertahan lama. Tepat di tanggal 14 September 2010, Irul memberikan keputusannya terhadap perasaan Dea selama ini. Tepat di tanggal 14 September 2010 keadaan itu berubah, keadaan itu tidak lagi sama seperti sebelum-sebelumnya. Tanggal itu merubah semuanya, merubah harapan Dea.
Hari ini hari terakhir MOS (Masa Orientasi Siswa). Kami semua anak baru di kumpulkan di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun cukup untuk menampung kami anak baru. satu persatu kami masuk kedalam ruangan itu, guru serta kakak kelas yang bertindak sebagai panitia MOS mengatur barisan kami. Dea dengan malu-malu masuk ke dalam ruangan itu. Dea melihat semua barisan telah terisi oleh anak-anak yang lain, namun ada 1 barisan yang belum terisi oleh anak-anak, ya barisan itu berada di barisan belakang. Dengan sangat terpaksa Dea masuk ke barisan itu. Pada saat itu Dea hanya baru mengenal beberapa orang dari mereka, salah satu nya saudara sekaligus sahabat kecilnya (mereka bersahabat sampai sekarang), namanya Zhe. Saat Dea masuk kebarisan belakang, disampingnya ada sekumpulan anak laki-laki yang tidak Dea kenal. Mereka tertawa, entah apa yang mereka tertawakan. Saat itu hanya perasaan takut yang ada dalam diri Dea (Dea kan takut sama laki-laki). Di antara mereka, ada satu yang mengalihkan perhatiannya (yuhuuuuu jatuh cinta gitu ceritanya). Pada waktu itu Dea belum tau siapa namanya, dan saat itu Dea merasa beruntung dapat barisan paling belakang (Alhamdulillah, hehehehe).
Semakin hari Dea penasaran sama anak laki-laki itu, diam-diam Dea memperhatikan dia, mencari tau siapa nama anak itu. Pucuk dicinta ulampun tiba, hahahaha. Ketika Dea sedang mencari tau siapa anak itu, kakak nya yang kebetulan satu sekolah cerita tentang dia, huhuhu senang lah hati Dea "bilang donk Ka kalo kenal sama dia" kata Dea, tapi hanya dalam hati aja sih, hehehehehe.
"De, tadi ada yang namanya Irul ngga?" tanya kakak saya.
"Irul? Yang mana dah orangnya? Dea ngga tau orangnya." jawab Dea sekenanya.
"Besok deh Kakak kasih tau. Dia itu adik nya Zia, sepupu nya Kak Uki, sepupu nya Aji juga."
"Emang ada sepupunya Kak Uki?"
"Lah itu.Zia kelas 3 MTs, Aji sekelas ama Aa, nah Irul barengan ama Dea kelas 1 MTs."
"Yang mana orangnya?"
"Iya makanya besok aja Kakak kasih tau di sekolah."
"Yaudah." jawab saya singkat.
Keesokan hari nya di sekolah.
Karena Dea ini masih anak baru, jadi setiap berangkat sekolah saya selalu bareng sama Kakak saya. Sebenarnya sih Dea ngga pernah mau bareng sama dia, begitupun sebaliknya. Dea lebih senang bareng sama saudaranya yang lain (Abangnya Zhie) dari pada sama kakaknya sendiri. Alasan kakaknya ngga mau bareng itu katanya "MALU", hoaaaahhhh memang kakak yang menyebalkan (bahkan sampai saat ini).
"Ntar kalo udah keluar kelas, langsung ke kelas Kakak aja. Ini kelas Kakak." kata Kak Lisa.
Dea hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Waktu pulang tiba, Dea sama Zhie langsung ke kelas kakaknya. Sampai di depan kelas Kak Lisa,
"Cari siapa dek?" tanya teman Kak Lisa (nama kakaknya Dea). Dea lupa siapa orangnya, yang jelas cowok, hahaha.
"Lisa nya ada?" jawab Dea singkat.
"Ini adiknya Lisa?"
"Iya, Lisa nya mana?" Jawab Dea ketus.
"Lisa ...Lisa ... Di cariin ade lu nih." teriak teman nya Lisa.
Spontan teman-temannya Lisa langsung rame, ribut, berebutan mau liat Dea (hahahahahaha narsis dikit, eh tapi ini beneran lho, hehe )
"Mana ade nya Lisa? Mana?" Kata salah seorang teman Lisa yang cowok.
"Oh ini ade nya Lisa." kata dia saat di depan Dea.
"Lisa nya mana?" tanya Dea masih dengan nada ketus.
akhirnya keluarlah Kak Lisa.
"Lama banget sih, mau pulang." ucap Dea ketus.
"Iya tar dulu, udah pulang duluan aja, berdua ini sama Zhie." kata Lisa.
(ngeselin kan tuh kakak kaya gitu, kakak paling TEGA)
"Eh Lisa, kasian lu ade lu suruh pulang sendirian." kata temennya Lisa.
"Kaga apa-apa udah Wa, berdua ini ama Zhie." jawab kakak saya seenaknya.
"Siapa nama ade lu Lis?"
"Dea, ngapa lagi lu Wa?"
"Dia kenal ama Uki?"
"Kenal lah."
"Eh neng, kenalin guaAji, saudara nya Uki." kata temen nya Lisa yang ternyata bernama Aji.
"Iya udah tau." jawab Dea seenaknya (padahal mah baru tau saat itu juga, hehehe)
Oh jadi ini yang namanya Aji, terus yang namanya Zia sama Irul yang mana? kata hati Dea.
"Lah lu udah tau gua aja neng, dari Lisa ya?"
"Iya. Udah ah Dea mau pulang. Pulang bareng ngga?
"Udah pulang duluan aja ama Zhie."
"Ngeselin banget lu, tau gini mending langsung pulang aja, ngga usah ke sini-sini. Ayo Zhie kita pulang." kata Dea marah-marah.

Jumat, 23 Desember 2011

Hal yang paling membahagiakan dalam hidup adalah saat kita bisa menjadi orang yang berarti buat orang lain. Hal yang paling berarti dalam hidup adalah saat hidup kita bisa menjadi inspirasi dan semangat buat kehidupan orang lain. Hal yang paling berkesan adalah saat senyuman yang kita berikan bisa menjadi hal yang paling indah buat hidup orang lain. Dan hal yang paling menyenangkan adalah saat diri kita benar-benar berguna buat diri orang lain. Saat-saat seperti itu lah yang selalu di inginkan setiap orang, baik tua maupun muda, perempuan ataupun laki-laki. Dan hal yang paling menyedihkan adalah saat hidup, diri, senyuman kita ngga berarti apa-apa buat hidup dan diri orang lain, kita hanya bisa menjadi masalah buat hidup mereka, hanya menjadi beban buat hidup mereka.
Pasti kita semua pernah mengalami seperti itu, kita pasti pernah merasa jadi manusia yang hanya  jadi beban buat kehidupan mereka, kita pasti pernah merasa jadi sumber masalah buat kehidupan mereka, mereka orang-orang yang kita sayang, orang-orang yang menyayangi kita. Saat itu lah titik terendah kita sebagai manusia. Menurut Dhoni, itu perasaan yang wajar terjadi dengan setiap manusia. Yang namanya manusia itu kan makhluk perasa. Lagi pula perasaan itu penting juga buat kita untuk merasakan hal itu. Karena dengan kita merasakan hal itu, kita bisa mengintrospeksi diri kita masing-masing dan terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi buat manusia yang lain, J
Dhoni pun pernah ngerasain hal yang sama dengan apa yang Dhoni tulis di atas, terutama mengenai hal yang menyedihkan itu. Saat itu Dhoni ngerasa jadi orang yang ngga berguna buat orang yang Dhoni sayang. Dhoni ngerasa hanya jadi beban, hanya jadi masalah, hanya jadi pengganggu, bisanya cuma ngerepotin kehidupan orang yang Dhoni sayang. Yang Dhoni bisa lakuin saat itu cuma ngejauh dan minta maaf, tanpa tau harus ngelakuin apa lagi. Tapi di saat itu juga, Dhoni pengen orang yang Dhoni sayang itu menyadari perubahan sikap Dhoni yang ngejauh, nyemangatin Dhoni, dan yang paling penting ngga ngejauhin Dhoni (hehehe banyak maunya, J). Dan itu lah yang benar-benar di lakukan dia ke Dhoni saat itu (huhu seneng deh, :p).
Eh eh kenapa jadi cerita gini ya? Hohoho kita kembali lagi deh ke topik. Setiap orang pasti ingin menjadi yang terbaik untuk orang lain lebih khusus untuk orang yang dia sayang. Namun terkadang pada prakteknya itu hal yang sulit untuk kita lakukan dari pada kita ucapkan. Kita sebagai manusia lebih senang mengucapkan dari pada melakukan. Padahal setiap manusia itu butuh yang namanya perlakuan, bukan sekedar ucapan. Sekarang pertanyaannya “Apa yang udah kalian lakukan untuk orang-orang yang kalian sayang?”, kemudian pertanyaan kedua adalah “Kalau sudah, hal terbaik apa yang sudah kalian lakukan untuk mereka orang-orang yang kalian sayang?”. Dan pertanyaan selanjutnya “Kalau pun belum, kapan kalian akan melakukan hal itu?”, “Tunggu mereka orang-orang yang kalian sayang pergi meninggalkan kita?”
Kebiasaan terburuk kita sebagai manusia adalah sering menyepelekan segala hal, entah itu untuk hal yang besar atau pun hal yang kecil, sering menunda-nunda mengerjakan hal-hal yang seharusnya kita lakukan atau kerjakan. Selalu menganggap mudah segala hal yang sebenarnya memang sulit kita lakukan. Setelah semua itu, hal yang pasti terjadi adalah kita tidak melakukan hal itu, sekali pun kita melakukan hal itu, kita akan melakukannya di saat-saat terakhir, bahkan yang lebih parah adalah kita tidak pernah mempunyai kesadaran untuk melakukan hal itu. Dan kita akan menyadari nya setelah semua waktu dan kesempatan itu sudah tidak kita dapatkan, bahkan HILANG, dan hal yang kita dapatkan hanyalah sebuah PENYESALAN.
Penyesalan memang selalu datang belakangan, itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan orang-orang yang mengalami hal tersebut. Mereka akan terus menyesali kejadian itu, dan mereka akan berdalih “Aku malu, aku gengsi, aku ngga percaya diri, aku takut melakukan itu.” Helloo, sampe kapan kamu mau seperti ini? Ayo jangan tunda lagi, cepat lakukan itu, jangan sampe nyesel duluan baru nyadar, hehehehe. Masih zaman ya malu, gengsi, takut? Masih zaman ya sama semua itu? Sekarang pilih mana, antara malu, takut, ngga percaya diri, gengsi sama menyesal seumur hidup karena kita udah kehilangan kesempatan untuk ngelakuin sesuatu yang terbaik kepada orang yang kita sayang? Lagi pula kalau pun kita lakuin, itu akan membuat orang yang kita sayang merasa betapa berarti nya mereka buat kita, betapa berharga nya diri mereka untuk kita. Kita juga kan yang seneng, mereka jadi ngga ninggalin kita, kita jadi ngga kehilangan orang yang kita sayang, bahkan mereka akan lebih menyayangi kita, J

Hidup

Dalam hidup tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang apa yang kita inginkan itu malah sesuatu yang sulit untuk kita dapatkan. Bahkan terkadang tidak pernah kita dapatkan. Itu sudah hukum alam, dan memang seperti itu yang terjadi. Tetapi walaupun kita menyadari akan hal itu, masih sulit untuk kita menerima semua kenyataan yang memang sudah seperti itu adanya. Kita terlalu terlena dengan apa yang kita inginkan, kita terlalu mendewa-dewakan hal itu, kita terlalu berharap untuk mendapatkan itu, sehingga di saat kita tidak mendapatkannya, kita malah jatuh sejatuh jatuhnya ke dalam hal itu, yang timbul adalah rasa kekecewaan yang begitu besar yang kita rasakan.
Salah satu yang menjadi faktor ketidaksesuaian keinginan dengan kenyataan dalam hidup adalah “Ketidak Sempurnaan”. Tidak ada hidup manusia yang sempurna, tidak ada orang di dunia ini yang sempurna.  “Hanya orang pengecut yang menginginkan kehidupan yang sempurna.” Hidup ini selalu berlawanan. Kurang kesadaran akan hal ini lah yang menjadi pemicu utama rasa kekecewaan itu datang. Kita selalu menganggap hidup ini sempurna, kita selalu menganggap apa yang kita inginkan selalu terwujud sesuai dengan apa yang kita inginkan. Padahal Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa kita inginkan. Disaat Allah memberikan apa yang memang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, itu lah yang terbaik untuk kita.
Hidup ini hanya sekali, hidup ini terlalu singkat untuk kita tangisi dikala kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Manfaat kan waktu dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kita menyesal di kemudian hari nanti. Kita terlalu berharga untuk terus meratapi hal yang tidak kita dapatkan. Masih banyak orang di luar sana yang kehidupannya jauh lebih pahit dari apa yang kita alami saat ini. Begitu banyak masalah yang di alami orang lain diluar sana yang jauh lebih berat dengan apa yang kita alami saat ini. Hidup itu jangan selamanya melihat ke atas, lihat lah kebawah. Dengan begitu, akan membuat kita menjadi orang-orang yang selalu bersyukkur atas apa yang telah kita alami. Dengan begitu, akan membuat kita jauh lebih menghargai waktu, jauh lebih bisa menerima keadaan kehidupan yang selamanya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jangan jadikan suatu masalah sebagai penghancur masa depan kita, jangan pernah jadikan masalah sebagai penghalang kebahagiaan kita, jangan jadikan masalah sebagai penghancur kehidupan kita. Masalah itu kita hadapi, masalah itu harus di selesaikan, bukan kita tangisi, bukan kita renungi.
Jadi, intinya adalah walaupun kita ini bukan orang yang sempurna karena memang ngga ada manusia yang sempurna, walaupun hidup kita ini bukan kehidupan yang sempurna, karena memang tidak ada kehidupan yang sempurna, walaupun terkadang apa yang kita inginkan tidak pernah kita dapatkan, tapi jadikan lah ketidak sempurnaan itu menjadi sesuatu yang “Sempurna”. Tetap tegar menghadapi semuanya, tetap TERSENYUM menghadapi hidup. Kalaupun ingin menangis, menangislah sepuas yang kita inginkan. Karena kita tidak akan pernah tau kapan kita akan menangis lagi. So, lakukan apapun yang membuat diri kalian nyaman dan bahagia, J

Rabu, 21 Desember 2011

Umi

Umi ...
Perempuan berumur 42 tahun inilah orang yang telah mengandung Dhoni selama 9 bulan, orang yang telah melahirkan Dhoni ke dunia ini 18 tahun yang lalu, orang yang telah mengajarkan, mendidik, membimbing Dhoni selain Bapak.
Umi ...
Umi itu perempuan hebat, ibu yang super-super hebat. Umi itu ibu dan juga isteri yang bisa di andalkan. Umi itu inspirasi Dhoni, hmmm ... My Hero, :D
Waktu Dhoni kecil, Umi itu musuh Dhoni, kenapa? Karena, waktu kecil itu kan Dhoni anak yang paling susah di atur, anak yang paling nakal, anak yang paling sering bikin Umi sama Bapak kesel, marah (Sebenernya sih sampe sekarang, hehehe)
Dulu, waktu Dhoni nya masih SD, kalo Dhoni nya kaga mau sekolah, Umi orang yang paling maksa-maksa Dhoni buat sekolah, tapi tetep aja Dhoni nya ngga mau. Nanti ujung-ujungnya pasti Dhoni ngambek (ngerti kan apa itu ngambek??), nangis kenceng-kenceng sambil teriak-teriak. Sekali nya mau, tapi Dhoni nya cuma pake seragam sekolah doang, tapi nya ngga bakal sampe ke sekolah, yang ada Dhoni nya malah nyangkut di belakang rumah. Kalo Dhoni nya udah di belakang rumah, pasti tetangga yang rumahnya pas banget di samping rumah Dhoni ngadu sama Umi bilang gini, "Umi, si Dhoni nya kaga berangkat ke sekolah, nyangkut di belakang rumah." dan udah pasti kalo keadaannya udah kaya gitu, Umi sama Dhoni pasti main kejar-kejaran kaya kucing sama tikus. Umi ngejar2 Dhoni sambil bawa-bawa sapu, Dhoni nya lari-lari sambil nangis-nangis (hahahaha lucu kalo inget), di tambah lagi kalo ada Bapak, ckckckck
Pernah ya waktu itu Umi saking kesel nya sama Dhoni, Umi sampe pergi dari rumah. Waktu Dhoni tau Umi pergi dari rumah, Dhoni nya ketakutan, ngerasa bersalah banget, Dhoni nya nungguin Umi sampe malem. Di tambah lagi Isma (Kakak Dhoni) malah nakut-nakutin Dhoni, tambah takut dan tambah bersalah aja Dhoni. Tau ngga pemirsa Umi pergi kemana?? Ternyata eh ternyata Umi nya malah pergi jalan-jalan (Lupa jalan-jalan kemana, -__-"), dan pulangnya Umi malah beliin aku bantal boneka Tweety samaan sama Isma (Umi kalo beli apa-apa pasti 2, dan itu pasti sama. Karena kalo cuma Dhoni aja yang di beliin, pasti Isma iri. Isma kan selalu iri sama Dhoni sampai SEKARANG!!). Huhuhu saat itu lega banget pas tau Umi ngga bener-bener pergi dari rumah, :)
Yang paling Dhoni inget dari kata-kata Umi kalo ngambek nya Dhoni lagi kambuh itu, "Biarin Umi nya mati aja biar Dhoni nya ngga ngambek-ngambek terus. Dhoni nya mau kali ya kalo Umi nya mati. Biarin aja Dhoni nya ngga punya Ibu." tapi kata-kata itu bukannya buat Dhoni berenti nangis, malah buat Dhoni nya tambah kenceng nangisnya, hahahahahahaha. Umi itu paling sabar kalo ngadepin Dhoni, :)
Umi ...
Hal yang paling Dhoni suka dari Umi itu, MASAKANNYA. Masakan Umi itu ngga ada 2 nya, hehehe. Kalo lagi di kos, suka kangen sama masakan Umi, :(
Pokonya Umi itu Is The Best, My Hero, My Inspiration, My Breath. Ngga ada yang bisa gantiin Umi, siapapun itu orangnya. Dhoni sayang Umi, Love You Umi ♥. Maafin Dhoni ya Umi kalo selama ini Dhoni selalu buat Umi kesel, marah. Maaf juga sampai saat ini Dhoni nya belom bisa jadi anak Umi yang baik, belom bisa bahagiain Umi sama Bapak. Do'akan selalu Dhoni ya Umi, :))
Semoga Umi sama Bapak selalu di lindungi Allah, selalu di beri kesehatan oleh Allah, amiiinn. :))





Minggu, 18 Desember 2011

Bapak

Bapak ...
4 huruf yang mengandung banyak arti buat ku. 4 huruf yang begitu sederhana namun begitu istimewa.
Bapak ...
Seorang yang begitu bijaksana, seorang yang begitu sabar, seorang yang begitu penyayang, seorang yang begitu baik, seorang yang begitu istimewa, seorang yang begitu toleran atas semua perbedaan yang ada dalam keluarga kami, seorang yang selalu menjadi penyemangat untukku, seorang yang menjadi inspirasi ku. Ya, dia lah Bapakku.
Bapak ...
Beliau begitu bijaksana terhadap kami anak-anaknya, Beliau tidak pernah memaksakan kehendak nya, Beliau tidak pernah memaksakan kami anak-anak nya untuk selalu tunduk dan patuh dengan apa yang dia utarakan. Beliau hanya memberikan kami pandangan, hanya memberikan kami gambaran.tentang sebuah kehidupan, tentang sebuah jalan yang akan kami ambil nantinya. Dia begitu menghargai apa kemauan kami,
Bapak ...
Beliau begitu sabar menghadapi, mendidik, mengajar kami anak-anaknya, terutama dalam menghadapi, mendidik, dan mengajari aku. Aku berbeda dengan kakak dan adik ku. Aku anak yang selalu membantah, aku bukanlah anak yang penurut, aku bukanlah anak yang baik, aku yang egois, aku yang cuek, aku yang keras kepala. Tapi, Bapak tidak pernah berhenti untuk terus mendidik, menyayangi, mengajarkan, mengarahkan, memberi nasihat terhadapku. Bapak tidak pernah menjauhkan ku hanya karena sikap dan sefatku yang berbeda dengan kakak dan adik ku. Bapak tidak pernah berhenti untuk memberikan itu kepada ku sampai saat ini, bahkan sampai aku dewasa nanti.
Bapak ...
Sosok yang selalu aku jadikan panutan dalam hidupku, selalu menjadi inspirasiku dalam segala hal. Di saat aku terjatuh, Bapak yang selalu menolongku. Di saat mereka menjauhiku, Bapak yang datang mendekatiku. Bapak penolongku, ayah istimewa untukku. Aku bangga mempunyai seorang Bapak seperti Beliau. Satu hal yang buat aku kangen dari sosok Beliau "Senyum dan Kebijaksanaan".
Bapak ...
Jangan pernah tinggalin Dhoni sendiri, jangan pernah berhenti sayang sama Dhoni, jangan pernah cape mendidik, ngajarin Dhoni banyak hal, jangan pernah berhenti lakukan itu. Dhoni Sayang Bapak, maaf kalo saat ini Dhoni belom bisa buat bangga, belom bisa jadi anak yang baik, belom bisa jadi yang terbaik. Suatu saat nanti Dhoni pasti jadi anak kebanggaan mu, :)
Dhoni sayang Bapak, 

Jumat, 21 Oktober 2011

Ikhlas


Gua sadar gua bukan yang terbaik buat dia, gua bukan orang yang selalu ada buat dia, gua bukan orang yang peduli sama dia, gua pun sadar gua bukan orang yang bisa buat dia bahagia. Tapi jauh dalam hati gua, gua peduli sama dia, segala tentang dia. Sakit hati gua saat liat dia lebih deket sama sahabatnya dari pada gua, sakit hati gua saat liat ada orang yang jauh lebih peduli sama dia dari pada gua, sakit hati gua saat liat ada orang yang lebih bisa buat dia bebas, bisa buat dia bahagia, dan sakit hati gua saat gua liat ada orang yang lebih tau segala tentang dia dari pada gua.
Tapi gua ngga mau egois, gua ngga mau ngelarang2 dia saat dia mau bebas, gua ngga mau ngelarang2 dia buat deket dengan siapapun. Saat gua liat semua kenyataan itu, hanya dengan menangis gua bisa ungkapin semuanya, hanya dengan air mata yang bisa mengerti perasaan gua. Walaupun keadaannya sekarang berbeda, sayang gua ke dia ngga akan berhenti samapi disini. Tapi gua ngga mau maksain kemauan gua, kalaupun suatu saat nanti dia nemuin orang yang lebih segalanya dari gua, gua ikhlas, walaupun jauh dalam hati gua sakit nerima semua itu. Tapi gua ngga mau egois dengan perasaan gua ke dia. Seribu kali gua masih bertahan dengan perasaan gua, tapi kalaupun dia udah ngga ada perasaan sama gua, gua bisa apa selain ngelepasin dia???